| HOME | PASIFIC | INTERNATIONAL | HOMELAND | EDUCATION | FAQ | GUESSBOOK | ABOUT US| NOTIFICATION | DONATION |
papuatime
News of Morning Star Island » "Our art and culture is begin from our melanesian family, how about our struggle"

News

PERANG ADALAH SOLUSI BAGI STAGNASI PERJUANGAN PAPUA

[ 31-08-2009 ] Posted by : Joko

Bacaan Rakyat Papua By : Ismail Asso

Dalam pesan singkat (SMS) pada saya Prof Dr. Sri Bintang Pamungkas : "Seringkali Revolusi pemikiran tidak ada artinya tanpa revolusi fisik. Kalau Anda disini (Jakarta), datanglah {pada hari, IA) Jum'at didepan gedung DPR RI/MPR RI, Jl Gatot Subroto pada Jum'at 14 Agustus 2009, Jam 14, sendiri atau dengan kawan-kawan.. Terimaksih. Salam Revolusi! SBP." (Sms, SBP, terkirim: 19;32;04/11/ 08/2009).

Pesan ini jika diperhatikan sangat bersetuju dengan pandangan singkat Saudaraku, Bung Hans Tapol (selanjutnya singkat, HT). Jadi ini artinya disini saya juga ingin mengatakan bahwa saya sangat setuju dengan pendapat Saudarku HT. Karena revolusi pemikiran tanpa revolusi fisik tidak ada artinya sebagaimana pendapat SBP pada saya seperti terlihat dalam sms singkat diatas.

Sri Bintang Pamungkas (atau SBP) kita tahu sebelum ini bahwa dia adalah seorang tokoh roformasi paling utama dan pertama pada era Orde Baru jaya-jayanya, dimana dia dengan lantang dan berani menentang kekuasaan semena-mena Soeharto yang akhirnya menggiringnya mendekan di LP Cipinang bersama Xanan Gusmao, Presiden Timir Leste hari ini. Dia korban politik otoriter Presiden Soeharto, karena dia memang mengirik keras dan turun ke jalan memimpin mahasiswa Indonesia yang jemudian langkahnyadiikuti itu Amin ARais untuk menggulingkan perintahan otoriter dan sentralistik Soeharto yang berkuasa selam 32 tahun.

Oleh sebab itu diskusi tarik menarik anatara tokoh tua, agamawan, dan generasi muda Papua dimilis komunitas -Papua belakangan ini tentang pendekatan mana soal penyelesaian Papua, antara pendekatan violens dan non violence. Dalam pada itu, dalam berbagai tempat saya berp[endapat bahwa solusi Papua adalah perang. Alasannya dialog yang digagas oleh kalangan Pastoral Katolik Papua, tanpa sasaran pencapaian hasil sebagaimana GAM di Helsinki sama saja omong kosong.

Terus terang, saya mendukung generasi muda bahwa untuk menyelesaiakan persoalan akut seperti halnya Papua ini maka solusi untuk dialog secara seimbang adalah melalui perang, baru kita bicara dialog. Tapi Saudara HT, sangsi atau tidak setuju, atau apa, tapi intinya tanggapan atas pendapat saya tidak disetujui, entah karena faktor x atas pandangan saya bahwa perang adalah solusi stagnasi penyelesaian persoalan konflik berkepanjangan Papua mengandung dianggapnya mengandung resiko. Maka pendapatnya ini sangat saya hargai.

Barang itulah esensi pro-kontra diskusi kita minggu-minggu ini. Lalu lebih lanjut Saudara HT berpendapat dan tanggapi pendapat saya itu bahwa apakah kita hanya berbicara saja dan menulis saja tanpa kita terjun langsung memimpin sendiri revolusi fiski yang diinginkan secara violence itu. Maka pendapatnya itupun sangat saya hargai, sebab iitu sejalan dengan pendapat SBP, diatas tadi. Saya hargai demikian pendapat SBP itu sama dan persis dengan pendapat Saudara HL, karena itu akhirnya kita semua sejalan dengan semangat Saudara HT.

Dimana-mana bahwa memang benar terbukti kalau saya hanya berteriak-teriak revolusi fisik atau perang sebagai solusi bagi Papua, tanpa terjun langsung kelapangan memimpin rakyat untuk melakukan revolusi sama artinya saya mengajak mereka, para rakyat Papua itu "ke kawasan perburuan". Sebab yang akan jadi korban selalunya adalah rakyat kita sendiri.

Tapi apakah sebuah keinginan bisa dicapai tanpa ada pengorbanan? Solusi Papua misalnya selama ini dengan jargon 'Papua Zona Damai' apa hasilnya dan manfaatnya bagi rakyat Papua? Nah lalu rekomendasinya dialog, tapi kalau dialo, dialog yang bagaimana? Demikian tanya Octo Taliamai dan Icto Pogou dalam artkelnya, demikian juga dengan pendapat saya, dialog yang bagaimana dan berdialog dengan melibatkan unsur internasionala atau dengan siapa dan melibatkan siapa dari Papuanya?

Lalu jalan perang bukan solusi penyelesaian konflik Papua dan jalan menuju Papua Merdeka. Lalu penyelesaian di tempuh melalui jalan dialog, apakah ini juga menjamin kita menuju Papua Merdeka? Kalau tidak, sama saja, kita tetap memilih jalan dijajah terus! Pertanyaan kecil saya, t api kalau tidak begitu (perang) nanti baiknya dan harusnya bagaimana lagi jalan terbaik menurut Tuan HT? Yang adanya saja seperti ini, apakah nanti juga akan terus begitu dan kembali jadi begini lagi?

Manusia Papua terus dilenyapkan/ dimusnahkan, tapi kitanya tidak merasa kalau itu prosesnya sedang berlangsung pada diri kita. Tapi anehnya kita hanya diam, perjuangan damai, perjuangan damai dan terus begitu akhirnya solusi dialog, rakyat Papua minta dialog demikian mau ditipu orang-orang itu.

Lalu apakah kita membiarkan diri saat anjing rabies mengigit terus dengan erangan tajam dengan gigi taringnya yang tajam tapi juga berpenyakit? Dengan hanya dengan satu gigitan saja kita habis (punah, musnah) tanpa menggigit juga kita mati, apalagi saat ini yang terjadi adalah proses genosida, tubuh kita dimakan anjing berpenyakliy raboes, dilawan atau tidak dilawan juga tetap kita mati karena rabiesnya.

Apa yang harus kita lakukan, apakah kita cari obat ke Amerika atau ke Jakarta ? Hendak cari jawab kemana solusinya? Menurut saya jawabannya ada pada diri kita, orang Papua sendiri, kita maunya bagaimana menghadapai situasi seperti ini. Tapi perhatikanlah cerita dibawah ini. Hal seperti ini bagi mereka yang ada ditanah jajahan tidak terasa dan teramati, mereka menjalani kehidupan secara rutin, karena itu tidaka merasalkan dan tak teramati, tapi itu sangat dirasakan oleh orang dari luar misalnya dalam kunjungan secara periodik para pengamat asing atau kita sendiri.

Begini Ceritanya :

Mohon maaf, saya mau cerita pengamatan pribadi saya. Dalam beberapa bulan yang lalu saya sempat ada di tanah jajahan RI itu. Saat itu saya tinggal dibeberapa kota di Papua, sekali saya ada di Jayapura, sorong, Manukwari, Wamena dll. Adalah kebiasaan saya setiap tahun atau setiap setengah tahun sekali sudah menjadi keharusan bagi saya bahwa pasti saya sempat-sempatkan diri pulang di Tanah tercinta Papua. Saat itu saya ketemu dengan teman aktivis Dorus Wakum didepan Plaza AB , kami ngobrol dan disela obrolan saya tanya dia :

"Orang Papua jarang terlihat sekarang jika diperhatikan sebagaimana 5-10 tahun lalu disemua sudut kota ini, jika dibandingkan 5-10 tahun yang lalu dalam lawatan saya masih banyak prang Papua, kini tersisa sedikit sekali, kini semakin habis, sepi, mereka pada kemana mereka perginya? Banyak jawaban dan pandangan dia soal itu. Tapi saya sendiri tahu jawab. Saya katakan pada dua rekan saya itu begini :

Sejak Otsus tahun 1999, angka kematian orang Papua paling tertinggi disebabkan minuman keras cap: “Khusus untuk di jual Papua”. Minuman itu diproduksi untuk konsumsi dan dijual hanya diwilayah Papua. Minuman itu pabriknya ada di Jawa Timur. Lalu penyebab kematian tertinggi kini lebih-lebih nanti bagi etnis Pribumi Papua adalah penyakit HIV/AIDS. Penyakit ini telah akan banyak menyebabkan kematian begitu banyak orang Papua, sejak Otsus di berlakukan dan deklarasi tokoh Papua dan teolog,'Papua Zona Damai'.

Saya katakan pada Dorus Wakum dan Benny Elabi saat itu tanpa sadar saya sudah meneteskan air-mata (sungguhn saya benar-benar menangis), saya sedih, ya saya menangisi akan nasib manusia Papua tanpa mereka tahu apa salah dan dosa, tapi hanya karena mereka semata-mata mempertahankan hak hidup mereka di negerinya, tapi nasib tragis dihadapi mereka seperti halnya pembunuhan secara sistematis dan terstructur, saya harus meratapi nasib malang orang Papua yang adalah juga bagian dari diri saya itu.

Saat ini saya menangis membuat dua kawanku membakar bara api revolusi, semangat jihad mereka. Karena barangkali mungkin secara adat saya sudah melakukan, sebagaimana biasa dilakukan orang tua-tuaku di Lembah Baliem mau berperang harus menangis meratap bersama untuk membangkit semangat kobaran apai keberanian para pasukan. Saya jujur tapi tanpa sengaja dan saya rencanakan sebelumnya, begitu saja air mata keluar menjumpai situasi seperti itu.

Menambah rasa luka akan kesedihan bahwa, banyak kehilangan sejumlah nyawa rakyat Papua, dan itu selalu saya amati setiap kali saya pulang kampung bahwa benar ada pembunuhan dan penghilangan atau pemusnahan etnis Papua yang disengaja lakukan oleh sebuah sistem secara sistematis dan itu sepertinya direstui dilakukan orang oleh negara. Akibatnya, tatkala terakhir aku kunjungi mengamati orang Papua nyata-nyatanya mulai mengurang jumlah populasi pendduduknya. Gawat!

Anda bisa bayangkan bahwa dalam satu angkot didalam kota Ibukota Propinsi Jayapura misalnya disejumlah tempat, dipinggir jalan, pemikiman-pemukiman orang Papuanya terlihat sangat jarang, terus menghilang. Dalam angkutan mobil umum misalnya jurusan AB-Perumnas I-II-III, atau AB-Kota Raja, pada saat jam kerja dari 10 penumpang orang Papua dalam angkot itu, orang Papua asli hanya ada 3 orang penumpang, selebihnya "amber".

Ini artinya apa? Begitu banyak penduduk Papua sudah mati dibunuh tanpa senjata. Melaui apa? Minuman keras, uang Otsus trilyunan, WTS, suntik KB, menembak mati atau diculik biasa dilakukan AD, Brimob terhadap anak-anak mahasiswa pegunungan di asrama Nayak dan asrama-asrama lain milik pemda di AB.

Kalau dalam perjuangan ada violens dan nonviolens, maka pembunuhan juga terjadi secara fisik dan non fisik. Secara fisik perlawanan dan penembakan lebih sering dan secara kasuistik/sporadis misalnya di Daerah Serui dan Punjak Jaya beberapa waktu kemarin lalu yang mengakibatkan kematian dan penyerangan aparat militer dari aparat KEPOLISIAN RI, ke daerah wilayah yang mereka diduga sebagai kampong tempat persembunyian tokoh OPM walaupun yang ditangkap hanya ibu-ibu dan anak-anak usia belasan tahun saat pulang sekolah SMP. Demikian dibanyak tempat terjadi diduga sebagai markas TPN/OPM, itu terjadi antara rakyat Papua dan TPN/OPM berhadapan dengan TNI/POLRI.

Secara non fisik pembunuhan secara halus melalui minuman, uang Otsus (sebab banyak uang orang Papua biasa lari ke “Sentani Kiri”, atau diskotek yang sangat ramai mendadak muncul disemua sudut kota Jayapura dalam masa Otsus ini. Itu semua berarti bagi mereka jebakan pembunuhan secara diam terhadap etnis Papua. Semua itu adalah ranjau-ranjau baru menjebak orang Papua untuk dibunuh-habisi, karena dengan uang Otsus “paha putih” dapat dibeli model apa saja, tapi tanpa tahu akibatnya kematian karena mengidapa HIV/AIDS.

Kalau kenyataannya begitu apakah kita tidak membela diri? Mau harap sama siapa? Tuhan, Amerika, Belanda , Australia atau pada Obama, Faleomavega atau pada siapa? Saya kira jawaban sederhana saya adalah bahwa kita menolong diri sendiri adalah pertama lalu ada orang lain perduli pada kita mau membantu. Kalau kita diam harap Tuhan dengan hanya mengharap dan mengatakan Zona Damai, siapa mau peduli?

Konkritnya memang mengorganisasi, tapi secara revolusioneer adalah bergerak dulu, artinya genderang perang lawan penjajahan dan penindasan sudah dibunyikan, maka kebutahan dan indentifikasi masalah seperti krisis kepemimpinan akan bisa lahir melalui revolusi fisik. Sebab secara antropologis sitem raja hanya daerah Fak-Fak dan Raja Ampat, yang berarti menunggu perintah, kalau mayoritas penduduk Papua memiliki pola kepemimpinan Kepala Suku, dalam tradisi Papua adalah sistem insindental (kepala Suku/Ondoafi) , maka gederang perang melawan penindasan adalah solusi sekaligus jalan menuju Papua Merdeka memunculkan pemimpin Papua yang dirasakan kurang saat ini.

Ismail Asso adalah muslim Papua kelahiran Walesi Wamena Papua
________________________________
Dater: Mon, Aug 31, 2009 at 12:18 AM

News

Articles

Mob

  • Susu.. Susu
    [11-01-2010] Posted by : Joko


    Satu hari tong piknik ke kebun apel milik kepala desa. Agak jauh sih, naik sepeda kira kira 9 km dari kota [di welesi]. Di rumah peristirahatan itu ada piter anak kepsek yang kocak dan ramah. pas tong asyik istirahat karena capek baru sampai, de berseru:
    [ read more... ]

  • Pc Obet & Pc Trikora
    [09-10-2009] Posted by : Joko


    Obet lg crita2 dgn de pu teman skolah namanya trikora, dari jurusan bahasa tentang kata tanya yg benar.

    obet : eh trikora menurut koi, kata tanya yg benar tuh 'apa kabar rama atau rama apa kabar? trikora jwb, apa kabar rama? obet sambung kabar
    [ read more... ]

  • TNI Gigi neHh..
    [05-10-2009] Posted by : Joko


    Dalam suatu seleksi masuk TNI, Pace yang merupakan laki-laki asal Papua gagal masuk TNI karena tidak lolos tes kesehatan karena giginya ompong.

    Dia merasa tidak terima sehingga dia mengajukan keberatan kepada panitia seleksi TNI.

    Pac
    [ read more... ]

  • Kau Hancurkan Hatiku
    [23-09-2009] Posted by : Kelle


    Ni.... ada tete dan nene, skrang ni nene de jual pinang de depan kompleks ka ini, tapi tete juga tra mau kala de juga mo ikut nene jual pinang, stiap kali orang beli nene pu pinang, tete de minta uang tuk beli rokok,sampe bgni nene pu uang pinang su hab
    [ read more... ]

  • Siku di Depan Boleh
    [23-09-2009] Posted by : Kelle


    Pace satu nih de ada mo pi jual de pu sapi 3 ekor, jadi de su pi panggil mobil blakos alias blakang kosong.... Mobil su tiba di pace ko pu halaman rumah trus pace ko kasih naik sapi satu-satu ke atas blakos.... Sapi yang pertama dan kedua ni pas naik ke
    [ read more... ]

Link