News
Di Bolakme, Bendera Bintang Kejora Berkibar
Kantor Desa dan 1 Unit Rumah Dibakar, Warga Diteror
Lokasi pengibaran bendera tersebut sekitar 1 km dari jalan raya dan 2 km dari Polsek Bolakme dan Koramil Bolakme. Pengibaran bendera Bintang Kejora awalnya berbarengan dengan bendera PBB, namun bendera PBB sudah diturunkan, sedangkan Bintang Kejora tetap berkibar sejak (14/7) hingga Jumat (31/7) kemarin.Pengibar bendera tersebut diduga dilakukan oleh kelompok TPN/OPM gabungan dari berbagai daerah diantaranya kelompok dari Kabupaten Tolikara, Mamberamo Tengah dan Puncak Jaya.
Selain mengibarkan bendera Bintang Kejora, kelompok ini juga dilaporkan telah membakar 1 unit kantor desa pada Kamis (16/7) lalu, kemudian membakar 1 unit rumah sosial, bahkan merusak 2 jembatan yang menghubungkan antar Kabupaten Jayawijaya dengan Tolikara, Mamberamo Tengah dan Puncak Jaya.
Tak hanya itu, akibat aksi-aksi kelompok ini tersebut membuat masyarakat di sekitar daerah tersebut menjadi ketakutan dan mengungsi, bahkan dilaporkan telah terjadi penganiyaan.
Upaya negosiasi yang dilakukan oleh tokoh setempat seperti Kadistrik Bolakme, tokoh gereja, tokoh adat, tokoh masyarakat, kepala suku telah dilakukan sebanyak 2 kali yaitu tanggal 16 Juli dan 20 Juli, namun upaya tersebut belum membuahkan hasil, bahkan negosiasi kedua sempat terjadi kontak senjata antara pihak keamanan dengan TPN/OPM.
Setelah dua kali negosiasi gagal, dilakukan negosiasi ketiga pada Jumat (31/7) kemarin yang langsung dipimpin Bupati Jayawijaya, Wempi Wetipo, S.Sos, M.Par, Wakil Bupati, Jhon R Banua, Kapolres Jayawijaya, AKBP. Drs, MH Ritonga, M,Si, Dandim 1702/JWY, Letkol Inf. Septinus Eduard Ginting, Wadanyon 756/WMS, Mayor Inf. Jamaluddin dan Muspida di lingkungan Pamkab Jayawijaya bersama anggota TNI/Polri. Rombongan kemudian menuju lokasi untuk melakukan dialog.
Tim negosiasi yang diperintahkan Bupati Jayawijaya langsung berangkat menuju Gunung Jugum. Tim tersebut terdiri dari Kadistrik Bolakme, Yance Tabuni, anggota MRP, Ny Serina Kogoya, Kepala Lakwame, Yosia Komba, tokoh gereja dan Pdt. Tius Kogoya.
Proses negosiasi tersebut berlangsung sekitar 1 jam, namun belum juga berhasil karena pihak TPN/OPM menolak kehadiran pemerintah yang datang menuju lokasi tersebut.
Kadistrik Bolakme, Yance Tabuni mengatakan, pihaknya bersama tim negosiasi yang naik ke Gunung Jugum untuk bertemu dengan pihak TPN/OPM tidak berhasil bertatap muka langsung.
Lanjut Yance, pihak TPN/OPM hanya mengeluarkan penyataan agar tim negosiasi dan pemerintah segera pulang dan tidak mengganggu. "Saya mengatakan kepada mereka bahwa Bupati Jayawijaya menyampaikan pesan untuk meminta perwakilan mereka bisa bertemu, namun mereka mengatakan bahwa mereka tidak akan turun. Bahkan mereka mengatakan lagi bahwa mereka tidak meminta apa-apa,"jelas Yance di depan Bupati Jayawijaya dan Muspida lainnya.
Sementara itu, Kepala Suku Besar Bolakme, Pionak Tabuni mengungkapkan, dulunya yang tinggal di lokasi tersebut adalah masyarakat asli Bolakme, namun sekarang sudah banyak warga lainnya ikut tinggal dan menetap di lokasi tersebut, untuk itu, sampai sekarang dirinya belum mengetahui secara pasti siapa pimpinan di lokasi, sebab tidak ada komunikasi yang baik dengan warga disana.
Ditempat yang sama, Bupati Jayawijaya, Wempi WEtipo, S.Sos, M.Par menjelaskan, batas toleransi untuk melakukan negosiasi sudah ketiga kalinya, untuk itu pihaknya akan membahas hal ini ditingkat Muspida terlebih dahuku untuk memutuskan langkah apa selanjutnya yang akan dilakukan.
Bupati mengakui, pihaknya sudah berupaya melakukan negosiasi Kamis (30/7) malam, namun pihak TPN/OPM ternyata tidak bersedia menemui pemerintah. Stelah dilakukan pendekatan lagi dan menghadirkan semua Muspida di lokasi dekat tempat pengibaran bendera, ternyata setelah semuanya hadir, sikap kelompok tersebut tetap sama dengan sikap sebelumnya.
Disinggung soal fasilitas umum seperti jembatan yang sudah dirusak, Bupati Wetipo menambahkan, untuk jembatan tersebut segera akan diperbaiki dan dibangun, karena jembatan itu merupakan jalan pemerintah yang menghubungkan antar kabupaten. Meskipun jalan ini masih dalam wilayah Jayawijaya tapi digunakan bagi kabupaten lainnya," Untuk itu kalau kita menghalangi jalan ini berarti sama saja kita melanggar huikum," jelasnya.
Menurut Bupati Wetipo, sebenarnya kalau kelompk tersebut tinggal diam dan tidak menggangu orang lain seperti dulu maka semua akan berjalan baik. "Kita sudah berniat baik tapi ternyata tidak dianggap baik, namun kita akan pulang untuk membicarakan langkah selanjutnya,"terangnya.
Setelah proses negosiasi belum berhasil maka rombongan meninjau jembatan yang dirusak tersebut, setelah itu menuju Kantor Distrik Bolakme untuk bertemu langsung dengan masyarakat. Sampai berita ini ditulis, bendera bercorak cerah tersebut masih berkibar diatas Gunung Jugum. (nal)****
______________________________
Sumber: www.cenderawasihpos.com
Dater : 01 Agustus 2009 13:02:57