News
Prajurit Perbatasan Harus Pakai Pendekatan Budaya
JUBI - Prajurit TNI yang bertugas menjaga wilayah perbatasan Indonesia dengan negara tetangga khususnya yang berada dibawah Komando Daerah Militer (Kodam) XVII Cenderawasih harus memakai pendekatan budaya dan agama dalam menghadapi rakyat dilingkunagn tempat tugasnya.
Hal itu dikatakan Pangdam XVII Cenderawasih, Mayjen TNI. AY. Nasution, di Buper Waena, Sabtu (24/10), saat memberikan arahan kepada 1.408 personil TNI dari batalion 527/Baladibayudha (BY) Lumajang, Jawa timur dan Batalion 713/Satyatama (SY), Gorontalo, yang akan bertugas menjaga perbatasan RI-Papua New Guinea (PNG).
Ia menjelaskan, Papua merupakan daerah yang mempunyai kelompok pejuang bersenjata yang selalu memakai sistem gerilya. Mereka sangat sulit dideteksi dan diketahui keberadaannya. Sebaliknya mereka justru bisa saja selalu mengintai kegiatan pasukan TNI penjaga perbatasan setiap saat.
"Kelompok bersenjata gerilya ini jumlahnya kecil namun dekat dengan rakyat, ibarat "Ikan dan Air". Jadi sulit menangkapnya," terang Nasution.
Cara agar bisa mengetahuinya adalah prajurit TNI diperbatasan harus dekat dengan rakyat. Dimana salah satu caranya adalah dengan melakukan pendekatan budaya dan agama.
"TNI harus bisa memahami dan menghargai adat istiadat daerah setempat serta melakukan pendekatan dengan para pemuka agama. Tujuannya, untuk memberikan pemahaman kepada rakyat kalau TNI adalah mitra mereka dalam menjaga ketertiban dan keamanan," ujarnya.
Ditambahkan Nasution, jika rakyat sudah benar-benar berpihak dan mengerti bahwa TNI adalah mitranya yang tidak perlu ditakuti serta dapat menjadi teman serta penolong, rakyat pasti akan banyak membantu TNI.
"Dengan demikian, akan jelas terlihat yang mana kelompok bersenjata, dan yang mana rakyat," ujarnya.
Nasution juga mengungkapkan, yang paling mendasar untuk dimengerti prajurit yang akan bertugas di Papua adalah, jangan pernah menggunakan senjatanya untuk menakuti rakyat. Senjata itu sebaliknya harus digunakan sebagai alat untuk membantu rakyat dalam menjaga keamanan dan ketentramannya.
"Jangan pernah membuat rakyat takut dan benci kepada TNI, karena dengan adanya kebencian dari masyarakat, berarti kita gagal dalam melaksanakan tugas," tegasnya. (Yunus)****