News
Membongkar Akar Konflik di Papua
Berbicara tentang akar penyebab konflik di Papua kita sering terjebak pada cara berpikir dari tengah sehingga sangat rentan dan hampir selalu terjebak pada muara kerumitan persoalan yang sebenarnya tidak prinsip jika diletakkan dalam kerangka kepentingan jangka panjang yang mendasar sifatnya.
Akar penyebab konflik di Papua sebenarnya sederhana saja, meski implikasi dan daya rembetnya memang melahirkan banyak persoalan yang rumpil sifatnya. Untuk memahami akar konflik di Papua saya kira cukup dengan mengurai kaitan antara modal (capital), sumber agraria (tanah, air dan kekayaan yang ada di atas dan didalamnya), komoditas dan kapitalisme.
Logikanya adalah sebagai berikut:
Uang sumber agraria komoditas uang dan seterusnya. Agar proses itu berjalan lancar, maka perlu upaya pengamanan. Jika tidak, maka pemilik modal tidak akan memperoleh nilai lebih. Jika tidak ada nilai lebih, maka tidak bisa memperbesar produksi, sehingga kapital mati. Pada titik itulah aparatur ideologi dan represif negara bekerja.
Apa ancaman terbesar terhadap kelangsungan hidup kapital (uang sumber agraria komoditas uang)? Kesadaran dan praksis dari kesadaran tersebut.
Dalam konteks Papua, bukan karena orang Papua barbar, jahat dan bodoh, sehingga dianggap ancaman, tetapi karena proses perubahan uang sumber agrarian komoditas uang senantiasa memakan banyak korban, baik manusia maupun lingkungan alam. Ketika mereka yang menjadi korban langsung maupun tidak menyadari kenyataan itu, maka munculah reaksi: menentang, melawan dan memberontak. Karenanya, perlawanan dan pemberontakkan lahir karena ada kesadaran akan kondisi semacam itu, bukan sesuatu yang muncul dari langit.
Prinsip berpikir seperti itulah saya kira yang selayaknya dijadikan pijakan kita dalam melihat akar konflik di Papua. Berdasarkan prinsip itulah kita menjelajahi dan mengurai berbagai persoalan di Papua hingga ke soal-soal yang seolah-olah tidak ada kaitannya dengan kapital (uang sumber agraria komoditas uang).
Jika kita tidak beranjak dari prinsip berpikir seperti itu, persoalan apapun yang hendak kita pecahkan saya kira tidak akan sampai ke akar persoalannya. Jika prinsip itu ditinggalkan, maka kita akan mudah terseret pada cara berpikir dan upaya tambal sulam. Di Papua khususnya, dan Indonesia secara umum, diperlukan langkah radikal jika kita menghendaki perubahan mendasar. Jika tidak, kita akan mudah terjebak pada upaya-upaya temporer dan seolah-olah (seolah-olah memecahkan masalah, padahal tidak).
Apa yang saya kemukakan di atas hanyalah pengantar untuk memicu diskusi tentang akar penyebab konflik di Papua secara lebih mendalam. Anda bisa setuju bisa juga tidak. Untuk itulah Papualine.com mengundang anda berdiskusi dan membahas persoalan itu secara mendalam.
___________________________
Sumber: admin papualine.com